Login
remove
Tanya Kami
remove

Gallery

Bagaimana KitaBisa Menjalankan Crowdfunding hingga Tumbuh 200 Persen di Masa Pandemi

Platform galang dana atau crowdfunding yang dilakukan secara online saat ini merupakan salah satu metode alternatif yang kian mudah dijumpai.

Pemanfaatan layanan crowdfunding berangsur-angsur mengalami pertumbuhan jumlah adopsi yang signifikan. Meski dari segi fokus bidang, subsektor crowdfunding donation (alias fundraising) masih lebih dominan (dari jumlah pemakai layanan) dibanding model Equity dan Debt crowdfunding.

KitaBisa sebagai salah satu platform crowdfunding yang didirikan 2013 silam membuktikan ketahanan model bisnis urung dana ini. Padahal beberapa pelopor crowdfunding seperti Patungan, Wujudkan, dan BursaIde telah gulung tikar beberapa tahun silam.
Tumbuh di momen yang tepat

CEO sekaligus Co-founder KitaBisa, Muhammad Alfatih Timur kepada Tech in Asia menyebut, mereka cukup beruntung karena berkembang di momentum adopsi digital yang pas.

“KitaBisa tumbuh bersama dengan gelombang adopsi digital yang lumayan besar di Indonesia. Contohnya e-commerce, lagi booming beberapa tahun belakangan sehingga masyarakat mulai terbiasa dengan perilaku bertransaksi secara digital,” jelas pria yang disapa Timmy tersebut.
Pendiri dan Chief Executive Officer kitabisa.com M. Alfatih Timur

Gelombang adopsi digital itu kemudian berkembang lagi dengan pemanfaatan e-money yang menjadi pendorong terbesar kegiatan donasi di KitaBisa saat ini. Keberadaan e-money disebut Timmy sebagai opsi pembayaran paling dominan, bahkan menyalip penggunaan transaksi lewat bank konvensional.

Sejak e-money mulai banyak digunakan, aktivitas berdonasi dengan nominal kecil (microgiving) menjadi semacam tren baru.

Sumber: (https://id.techinasia.com/cara-kitabisa-jalankan-bisnis-crowdfunding)

 

Admin
SoftBank Vision Fund Akan PHK 10 Persen Pegawainya Akibat Merugi

SoftBank Vision Fund Akan PHK 10 Persen Pegawainya Akibat Merugi.
Pasca mengalami kerugian operasional sebesar US$12,5 miliar (setara Rp196 triliun) di tahun 2019 lalu, SoftBank berencana melakukan pengurangan jumlah pegawai Vision Fund mereka.

Dilaporkan Bloomberg, perampingan ini akan menghilangkan sekitar sepuluh persen dari total pegawai Vision Fund yang berjumlah lebih dari 500 orang. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) ini juga diperkirakan akan terjadi di seluruh lapisan perusahaan.

Pihak SoftBank belum bersedia memberi keterangan resmi, namun banyak pihak merasa langkah ini wajar mengingat kinerja buruk Vision Fund dalam satu tahun terakhir. Mereka kehilangan hampir US$10 miliar (Rp147,9 triliun) dari investasinya di WeWork dan Uber.

Pandemi COVID-19 yang terjadi juga memberatkan beberapa portofolio mereka lainnya, seperti kasus OYO yang mengalami penurunan pendapatan hingga 60 persen.

Pada saat melaporkan kinerja finansialnya tahun 2019 lalu, Masayoshi Son selaku founder SoftBank juga mengungkapkan kemungkinan ada 15 perusahaan portofolionya yang akan bangkrut. Sementara sisanya ia yakini akan tetap bertahan.
 

Bagaimana startup dan investor dapat bertahan secara finansial di tengah krisis

“Masuk akal jika SoftBank mulai memangkas beberapa jabatan di Vision Fund karena mereka sedang berada di posisi yang sangat sulit. Dan kemungkinan mereka akan merumahkan beberapa pegawai dengan gaji tinggi agar bisa memangkas biaya operasional,” kata Koji Hirai selaku Head of M&A Advisory Firm Kachitas Corp.

Kinerja buruk ini juga berdampak pada proyek Vision Fund 2 yang dicanangkan oleh SoftBank. Tahun lalu mereka hanya berhasil menutup penggalangan dana di angka US$2 miliar (Rp29,5 triliun), jauh dari angka US$108 miliar (Rp1,5 kuadriliun) yang ditargetkan.

(Diedit oleh Ancha Hardiansya)

Sumber: https://id.techinasia.com/softbank-akan-phk-10-persen-pegawainya

 

Admin
Lihat Artikel Lainnya